Polda Riau Perkuat Strategi Lawan Karhutla, 3.030 Personel Disiagakan dan Satu Juta Pohon Disiapkan
Polda Riau Perkuat Strategi Lawan Karhutla, 3.030 Personel Disiagakan dan Satu Juta Pohon Disiapkan

Polda Riau memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menggabungkan strategi pencegahan, penegakan hukum, pemanfaatan teknologi hingga restorasi ekologis.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Polda Riau dalam menjaga situasi kamtibmas sekaligus melindungi masyarakat dan lingkungan dari ancaman karhutla yang masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.

Strategi itu dipaparkan Kapolda Riau dalam kegiatan Analisis dan Evaluasi (Anev) Perkembangan Situasi Kamtibmas Terkini yang dipimpin Kapolri melalui video conference, Kamis (3/9/2026). Kegiatan berlangsung di Ruang Vicon Lantai 5 Polda Riau dan diikuti para pejabat utama Polda Riau.

Kapolda Riau menyampaikan, penanganan karhutla dilakukan secara integratif dengan mengedepankan prinsip Presisi. Tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika api muncul, tetapi juga memastikan pencegahan, deteksi dini, penegakan hukum, pemulihan hingga pelibatan masyarakat berjalan secara bersamaan.

Data Polda Riau menunjukkan, sepanjang Agustus hingga 2 September 2026 terdapat 437 kejadian karhutla di sejumlah kabupaten/kota di Riau.

Puncak kejadian terjadi pada 22 Agustus 2026 dengan 32 kejadian yang berkorelasi dengan 322 hotspot. Namun, setelah periode tersebut, jumlah kejadian mulai menunjukkan penurunan.

Bahkan, Polda Riau sempat mencapai kondisi zero karhutla, ketika tidak ditemukan lagi kejadian dengan tingkat low, medium maupun high. Kondisi itu turut didukung hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Riau selama kurang lebih tiga hari pada akhir Agustus.

Meski demikian, kepolisian tidak menurunkan kewaspadaan. Cuaca dan angin yang berubah-ubah masih dapat menyebabkan titik api kembali muncul setelah sebelumnya berhasil dipadamkan.

Karena itu, personel tetap disiagakan hingga dua minggu setelah api padam untuk memastikan proses pendinginan dan pemantauan berlangsung optimal.

Respons Cepat Empat Jam

Dalam menghadapi karhutla, Polda Riau menargetkan respons cepat. Sebanyak 3.030 personel disiapkan untuk mendukung pemantauan, pencegahan hingga pemadaman.

Bersama unsur Brimob dan operasional Polda, personel ditargetkan dapat tiba di lokasi kejadian maksimal empat jam setelah informasi diterima.

Kesiapsiagaan tersebut diperkuat dengan dukungan infrastruktur berupa 18 sumur bor, 1.390 embung, 1.988 sekat kanal dan 268 menara pemantauan.

Berbagai sarana tersebut disiapkan untuk menghadapi karakteristik wilayah Riau, terutama kawasan gambut yang membutuhkan penanganan khusus.

Tak hanya mengandalkan personel di darat, Polda Riau juga memanfaatkan teknologi. Saat ini tersedia tujuh drone pemantau, satu drone fire suppression, satu drone surveillance thermal serta kendaraan ATV untuk mendukung penanganan di medan sulit.

Tegas terhadap Pelaku Karhutla

Langkah pencegahan berjalan beriringan dengan penegakan hukum.

Hingga akhir Agustus 2026, Polda Riau telah menangani 39 laporan polisi dengan 42 tersangka, dengan luas lahan terbakar mencapai 2.112,7 hektare.

Angka tersebut menjadi bagian dari upaya kepolisian untuk memberikan efek pencegahan sekaligus memastikan karhutla tidak dipandang semata sebagai persoalan kebakaran, tetapi juga sebagai persoalan hukum dan lingkungan.

Polda Riau menerapkan pendekatan multi-door dalam menangani perkara karhutla. Selain itu, sebanyak 514 plang larangan karhutla telah dipasang di sejumlah lokasi.

Pengawasan juga dilakukan terhadap lahan yang pernah terbakar agar tidak kembali dimanfaatkan secara ilegal.

Bhabinkamtibmas Jadi Garda Terdepan Pencegahan

Pencegahan karhutla juga diperkuat dari tingkat paling dekat dengan masyarakat.

Bhabinkamtibmas dioptimalkan untuk menyampaikan langsung larangan membuka lahan dengan cara membakar. Edukasi tidak hanya dilakukan melalui media sosial atau selebaran, tetapi juga menggunakan pengeras suara di tengah permukiman masyarakat.

Pesan pencegahan disampaikan dalam berbagai kesempatan, termasuk melalui kegiatan keagamaan dan aktivitas masyarakat.

Pendekatan tersebut dinilai penting karena tidak semua masyarakat memiliki akses terhadap media digital.

Dalam kurun sekitar 1,5 tahun, Polda Riau telah melaksanakan ratusan ribu kegiatan pencegahan, antara lain 500.000 sosialisasi karhutla dan 530.000 patroli karhutla.

Teknologi Jadi Mata Polda Riau

Untuk memperkuat deteksi dini, Polda Riau mengembangkan Dashboard Green Policing Presisi yang terintegrasi dengan Dashboard Lancang Kuning.

Sistem tersebut memungkinkan pemantauan hotspot secara real-time, pemetaan daerah rawan, prediksi kondisi cuaca serta percepatan respons terhadap potensi kebakaran.

Dashboard Green Policing Presisi memanfaatkan data dari sembilan satelit, termasuk Himawari, dengan pembaruan data setiap tiga menit.

Teknologi itu tidak hanya digunakan untuk membaca potensi kebakaran, tetapi juga memantau upaya restorasi lingkungan yang telah dilakukan.

165 Ribu Masker untuk Warga Terdampak

Di tengah upaya pemadaman, keselamatan masyarakat dan petugas juga menjadi perhatian.

Polda Riau telah menyiapkan dan mendistribusikan 165.000 masker bagi masyarakat terdampak karhutla.

Selain itu, disiapkan 30 personel trauma healing dan 40 tabung oksigen. Oksigen ditempatkan di posko untuk membantu masyarakat maupun petugas yang berjibaku di lokasi kebakaran.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan karhutla tidak hanya berorientasi pada api, tetapi juga pada dampak yang ditimbulkan terhadap kesehatan dan kondisi psikologis masyarakat.

Dari Memadamkan Api Menuju Memulihkan Alam

Polda Riau kini mulai mendorong perubahan paradigma penanganan karhutla. Pemadaman bukan lagi menjadi tahap akhir, melainkan dilanjutkan dengan pemulihan ekosistem.

Melalui program Riau CERAH, Polda Riau mengusung tiga langkah, yakni Cegah, Rawat dan Hijaukan.

Program tersebut diarahkan untuk menjaga lahan tetap produktif tanpa merusak lingkungan, sekaligus melibatkan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas dan masyarakat.

Salah satu agenda besarnya adalah gerakan penanaman satu juta pohon yang direncanakan berlangsung pada akhir September atau awal Oktober 2026.

Polda Riau juga tengah mengidentifikasi jenis pohon yang paling sesuai untuk ditanam di kawasan bekas karhutla.

Sekitar 3.000 hektare lahan bekas karhutla tahun 2025 yang telah dipasang plang permanen ditargetkan dapat direstorasi secara menyeluruh.

Langkah tersebut diharapkan menjadi investasi ekologis jangka panjang bagi Riau, bukan hanya untuk menghadapi karhutla tahun ini, tetapi juga menjaga lingkungan untuk generasi mendatang.

Green Policing untuk Pencegahan Sepanjang Tahun

Polda Riau mendorong konsep Green Policing tidak hanya digunakan ketika karhutla terjadi, tetapi menjadi pendekatan berkelanjutan sepanjang tahun.

Konsep tersebut menggabungkan tiga aspek, yakni preventif, represif dan restoratif.

Dengan pendekatan itu, polisi diharapkan tidak hanya hadir ketika terjadi gangguan kamtibmas, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan dan membangun komunikasi dengan masyarakat.

Kehadiran polisi diperkuat hingga tingkat desa, RT dan RW, termasuk melalui kegiatan edukasi lingkungan kepada anak-anak di sekolah dan perguruan tinggi.

Bagi Polda Riau, menjaga lingkungan merupakan bagian dari menjaga keamanan dan kesejahteraan masyarakat.

“Jika kita menjaga alam, insyaallah alam akan menjaga kita.”




Kategori: Informasi Setiap Saat

Bagikan berita ini

Kembali ke Halaman Sebelumnya